Rabu, Juli 16, 2014

Cerita Sukses Pebisnis Penerbitan

Buku berjudul “Andai Aku Jalan Kaki, Masihkah Kamu Selalu Ada Untukku?” berisi catatan-catatan perjalanan penulis, berdasarkan pengalaman-pengalaman pribadi yang pernah ia alami, pengalaman orang lain, hikmah atas bacaan, bisikan, gosip dan lain sebagainya. Ragam tema yang ditulis mengindikasikan bahwa buku ini bisa sedikit mewakili realitas hidup manusia sehari-hari.
Perjalanan panjang penuh liku dan onak duri yang pernah dialami penulis benar-benar kaya akan inspirasi. Sekadar pembaca tahu, Edi mulyono, penulis yang lahir di Sumenep Jawa Timur ini, mengawali kariernya sebagai penulis cerpen. Cerpen pertamanya dimuat di sebuah koran lokal terbitan Yogyakarta, pada 10 Maret 1996 silam. Dan hingga sekarang ia telah menciptakan ribuan cerpen dan sejumlah buku.
            Sejarah hidup penulis cukup berliku dan mengharukan. Bayangkan, berbekal cincin emas seberat 5 gram yang ia beli dari honor cerpennya, ia menikah pada 1 Desember 2000. Ia menjalankan bahtera rumah tangganya secara mandiri dan cukup memprihatinkan, sembari merintis bisnis kecil-kecilan yang bergerak di bidang ‘publishing’. Perlahan tapi pasti, ia mulai kebanjiran order untuk mencetak berbagai jenis buku. ‘Bersikap amanah’ menjadi komitmennya dalam menjalankan roda bisnis. Dan setelah lebih dari 10 tahun, bisnis publishing-nya yang semula kecil, kini berubah menjadi salah satu penerbit di Yogyakarta yang cukup terkenal. DIVA Press Group, adalah nama penerbit yang ia kelola hingga kini.
            “Pohon kalau masih rindang daunnya, semua orang ingin berteduh di bawahnya. Namun jika sudah meranggas, rontok daunnya, jangankan berteduh, bahkan semua ingin menebang, setidaknya untuk dijadikan kayu bakar”. Itulah sederet kalimat yang pernah diucapkan almarhum kakek si penulis, yang tak pernah bisa lekang dari memori ingatannya. Ketika seseorang sedang berjaya, memiliki segunung harta dan hidup dikelilingi kemewahan, maka bisa dipastikan banyak orang yang ingin menjadi teman dekatnya. Namun, ketika ia sedang terpuruk berkalang kemiskinan, semua teman dekat yang dulu pernah memuja dan selalu menyediakan waktu untuknya, mendadak hilang tanpa jejak (halaman 11-19).
            Tentu Anda sangat sepakat bila memaafkan kesalahan orang lain adalah termasuk sikap yang sangat mulia. Ya, karena Tuhan adalah maha pemaaf segala kesalahan setiap hamba-Nya. Sifat Tuhan itulah yang secara tak langsung mengajarkan hamba-Nya untuk menjadi insan pemaaf dan murah hati. Namun kenyataannya, ternyata bukan hal mudah untuk memberikan maaf, meskipun orang yang berbuat salah kepada kita telah berulang kali memohon maaf. Ironisnya lagi, terkadang kita dengan begitu mudah menuduh orang lain berbuat salah, padahal bisa jadi itu hanya sebuah kesalahpahaman yang semestinya harus segera diklarifikasi (halaman 29-43).
            Setiap orang sangat dekat dengan potensi berbuat salah dan khilaf. No body perfect. Memang benar, tidak ada manusia sempurna di muka bumi ini. Kita, secara tidak langsung, kerap menghakimi, memojokkan, menyalahkan dan mencaci maki orang lain ketika terbukti melakukan kesalahan. Kita terkadang merasa enggan untuk mencari tahu, apa sebenarnya yang menjadi sumber penyebab seseorang melakukan kesalahan. Tetapi, meskipun begitu, bukan berarti dengan mengatasnamakan “no body perfect” kita lantas gampang jatuh ke kubang kesalahan yang sama. Dan yang pasti, pada hakikatnya, setiap kesalahan pasti mengandung hikmah dan pelajaran berharga agar kita bisa lebih berhati-hati dan berusaha menjadi manusia yang lebih baik di kemudian hari (halaman 66-76).
            Mensyukuri segala nikmat Tuhan terbukti menjadi kunci penenang jiwa manusia. Pada bab ini, penulis memaparkan kisah seorang wanita yang demi mempercantik fisiknya, ia rela melakukan apa saja meskipun harus mengeluarkan biaya yang sangat mahal. Beragam terapi kecantikan ia lakoni, mulai suntik silicon di bagian-bagian tubuh tertentu, rebonding, pasang tato, dll. Hingga suatu ketika, ia pun menyadari, bahwa kecantikan fisik yang berhasil diperolehnya sebenarnya semu. Parahnya, ia tak mampu membayar biaya terapi kecantikan rutin itu hingga menyebabkan seluruh tubuhnya rusak parah (halaman 100-114).          
            Masih ada sederet catatan-catatan perjalanan menarik yang bisa Anda baca di dalam buku yang ditulis dengan bahasa lugas, ringan tapi berisi, dengan harapan agar bisa dipahami oleh semua kalangan. Menariknya lagi, penulis juga membumbuinya dengan banyolan-banyolan segar tapi nyelekit.
***

Meneladani Kepemimpinan Umar Bin Khathab

Selasa, Juli 15, 2014

Sang Penyuap



Suara cekakak tawa itu kembali membahana di sebuah ruangan khusus buat mengadakan pertemuan. Tepatnya di hunian mewah milik pria baya berkumis, berbibir tipis dan memiliki wajah lumayan tampan, yang baru-baru ini memenangkan pilkada dengan gilang-gemilang di sebuah daerah antah berantah. Daerah tempat asal kelahirannya. Bayangkan! Dua kali putaran selalu menang telak. Menyodok-nyodok rivalnya tanpa ampun.

Jika suatu malam kalian kebetulan melewati halaman rumah megah pria baya itu, saya yakin kalian bisa mendengar tawa girang alang kepalang yang nyaringnya melengking-lengking bak lolong para anjing yang tengah berpora meraya-rayakan kemenangan yang sesiapa pun pastilah tahu; kemenangan ambisius yang diperoleh si Bos, julukan pria baya itu, bukan kemenangan sportif. Tidak gentle. Kemenangan semu alias abu-abu.

“Tapi Bos, bagaimana cara melawan mereka yang hendak memperkarakan Bos ke meja hijau?” ucap pria muda yang masih berstatus mahasiswa di sebuah universitas ternama. Pemuda aktivis yang kerap menjadi korlap demo itu  memang sengaja diciduk oleh si Bos untuk direkrut jadi bala kurawanya yang selalu diimingi fee besar saat berhasil menggulingkan rival politiknya lewat aksi demo dengan mengatasnamakan nasib rakyat yang tertindas.

“Hahaha! Hahahaha!!” si Bos malah terkakak, hingga bebutir ludahnya yang kekuningan muncrat menetesi karpet merah yang menghampar di ruang ber-AC tersebut.
Si pemuda langsung mengheran wajah. Kok, si Bos malah tertawa, sih? Apakah pertanyaanku ini mirip leluconnya Andre dan Sule dalam OVJ itu? Batin pemuda itu dirajam tanya sementara kedua alisnya saling bersitaut dengan dahi kerut-merut. Si Bos menatap wajah pemuda aktivis itu dengan seringai dan gurat wajah bermakna; “Ah, kau ini ternyata masih sangat ingusan anak muda!”

“Tenang! Jangan bingung menghadapi mereka! Aku masih punya senjata andalan yang bisa membekap mulut-mulut sok alim mereka!” ucap si Bos seraya mengeluarkan bungkusan tebal yang ia taruh di belakang kursi kebesarannya.

“Apa itu, Bos?” sela si pemuda polos, tak sabar, dengan gurat heran kian melipati wajah sawo matangnya.
Si Bos dengan sigap merobek bungkusan kresek hitam yang kini telah berada di atas pangkuannya. Betapa bola mata si pemuda langsung berkilau terpesona saat melihat isi kresek hitam itu ternyata adalah lembaran-lembaran licin berkilat warna merah yang bertumpuk-tumpuk. Saking terpesonanya, ludah pemuda itu sampai menetes, mengaliri dagu hingga berjatuhan di atas karpet merah.

Ya, si pemuda langsung bisa memaham. Pasti si Bos akan menyumpal mulut-mulut mereka; para hakim, jaksa, aparat penegak hukum, serta para saksi yang secara kasat mata menyaksikannya berlaku culas saat pilkada beberapa waktu silam dengan uang licin berkilat yang masih beraroma pabrik itu.

Selama ini, jimat paling ampuh untuk membisukan mulut-mulut mereka memang hanya satu; jimat fulus. Sebagaimana yang telah-telah. Yang biasa dilakukan para bos di manapun mereka berada pada orang-orang yang sok idealis kepingin memberangus korupsi dan menggulingkan kursi para penyuap hingga titik kulminasi.

Si Bos yakin, mereka, mulut manusia-manusia idealis sok suci itu pasti bakalan terlongo dengan tubuh menggeloso begitu melihat gepokan uang licin berkilat yang membuat bola mata mereka langsung melotot dan menghijau royo-royo.

“Kamu mau? Nih, buat kamu!” tak dinyana, si Bos melempar gepok ratusan ribu ke arah si pemuda yang masih berwajah takjub itu. Dan…hup! Hanya dengan satu kali gerak refleks, si pemuda gesit menangkapnya dengan sempurna.

“Bos, saya mau!”
“Iya, Bos, saya juga mau!”
“Bos, Bos, saya mau! Saya mau!”
“Iya, Bos, saya juga mau!”

Orang-orang yang berada di sekeliling si Bos melolong-lolong seperti anjing kelaparan dengan posisi tangan menadah-nadah bertingkah ala pengemis yang biasa nge-tem di pertigaan lampu merah. Lalu, dengan gesture congkaknya, si Bos pun melempar-lemparkan gepokan uang ratusan ribu itu kepada orang-orang yang ada di ruangan tersebut. Tanpa satu pun yang ketlingsut (terlewat). Semua kebagian sama rata.

Dan, acara temu si Bos dengan bala-kurawanya malam itu diakhiri dengan makan-makan enak, sembari meneguk hingga mabuk bercawan-cawan anggur yang telah dirampasnya dari pabrik-pabrik minuman yang menjamur di negeri antah berantah itu.
Saat tengah khusyuk berpesta-pora, tiba-tiba, seorang satpam berwajah tegang tergopoh menghadap si Bos.

“Bos, gawat, Bos! Gawat!” ucap si satpam seraya mengelap keringat yang membanjiri wajahnya.
“Ada apa?” tanya si Bos dengan menautkan jidat heran.
“Itu Bos, ada Ibu-ibu ngotot mau ketemu si Bos, sudah coba saya usir tapi tetap saja nggak mau pergi, dia malah nekat menunggu di bawah pohon beringin sebelah pos jaga, sambil menggendong anaknya yang katanya baru kejedoran tabung gas, Bos!” terang si satpam dengan nafas memburu.

Di luar duga, si Bos malah mengurai senyum, membuat benak si satpam mendadak langsung mengheran dikerubuti antrian tanda tanya. Lagi-lagi, si Bos mengeluarkan gepok uang yang dirogohnya dari kantong plastik hitam di sebelahnya. Sepertinya, uang si Bos tak ada habisnya.
Ah, jangan-jangan si Bos miara tuyul? Begitu yang langsung membersiti batok kepala si satpam yang sedikit botak dan licin.

“Nih, berikan pada Ibu-ibu itu. Pasti dia ke sini mau minta ini bukan?” seringai si Bos sembari melempar gepokan uang itu yang langsung ditangkap begitu lincah oleh si satpam.
*

Saat kembali ke pos jaga, si satpam mendadak menjadi selebriti dunia gaib. Ia langsung dikerubuti setan-setan yang langsung menginterogasi sekaligus melancarkan jurus rayuan mautnya.

“Hei, bodoh sekali jika uang tersebut kau berikan semuanya pada Ibu-ibu itu,” gumam si setan yang biasa bercokol di dada si satpam sambil melolos beberapa lembar dari gepokan uang yang digenggamnya.
“Iya, bodoh nian kau, jika uang itu kau berikan pada Ibu mata duitan itu,” sahut setan-setan yang lain.
Celoteh para setan yang lain pun seragam. Hanya satu setan saja yang menurut si satpam ber-ide secerlang purnama.
“Gini aja, Boi, biar aman, kau ambil jalan tengahnya saja. Kasih saja Ibu itu dua lembar limapuluhribuan, uang yang lain bisa kau gunakan buat kesenangan kau sendiri, Boi,”
“Ya, ya, ya, ide yang cukup brilian dan bijaksana,” gumam si satpam dengan bola mata berbinar ceria.
*

Namun setiba di pos jaga, si ibu yang barusan menggendong anaknya sudah tak terlihat lagi di bawah pohon beringin itu.

“Lho, kemana Ibu itu?” tanya si satpam pada teman seprofesinya.
“Sudah kugelandang paksa barusan,” ujarnya dengan seringai tengiknya.
Si satpam satunya lantas membalas dengan seringai senada-seirama; seringai-seringai penuh kemenangan.

Ah! Tak sia-sia aku punya partner kerja yang baik, loyal dan bisa diajak kompromi, gumamnya. Dia pun langsung teringat uang yang seharusnya diberikan pada ibu bertampang pengemis itu. Lekas ia merogoh dua lembar limapuluh ribuan dan mengangsurkan pada temannya.

“Nih, buat kamu, ini dari si Bos,”
Teman si Satpam memburaikan senyum dengan wajah sumringah.
“Tengkyu, Bro!” ucapnya langsung menyambar uang itu lantas mengecupnya berkali-kali. Sambil terus memasang senyum, ia beranjak ke belakang.
“Hei, mau ke mana kau?” teriak si Satpam yang satunya heran.
“Pipis, Bro!” katanya sambil meringis seperti menahan pipis yang sudah kronis.

Ah, dasar satpam tengik! Mana mungkin ia mau ke toilet sungguhan. Ia hanya berpura pipis padahal sejatinya ia sudah tak sabar ingin menghadap si Bos agar bisa kecipratan suap lebih banyak. Sayang, satpam satunya tak menyadari kalau ia tengah dibodohi.
*
Puring Kebumen 2010-2011
(Cerpen ini dimuat di Sumut Post,  ): 
 

Jumat, Juli 11, 2014

Meraih Cita-cita Sesuai Passion



            Setiap orang, tentu memiliki cita-cita yang ingin diraih dalam hidupnya. Rasa-rasanya, sungguh sangat mustahil bila ada orang di muka bumi ini yang menjalani hidup tanpa cita-cita. Namun, yang menjadi persoalan adalah, tidak setiap orang memiliki keberanian meraih cita-citanya dengan dalih merasa tidak mampu untuk meraihnya. Ironisnya, banyak orang yang memiliki potensi bagus, tapi tidak mau menggalinya dan memilih terjebak pada rutinitas pekerjaan yang menjemukan yang bukan merupakan passion-nya.
            Arti passion di sini lebih dari sekadar minat. Passion adalah kegembiraan dan kepuasan atas apa yang kita lakukan. Passion adalah sesuatu yang dikerjakan dengan ikhlas, tulus, dan tanpa paksaan dalam menjalaninya. Passion adalah ketika seseorang mengerjakan hal yang relatif sama secara berulang dan konsisten, tapi ia tidak pernah merasa bosan melakukannya. Dan masih ada sederet definisi passion yang diulas penulis dalam buku ini, (hal 37-38).
            Di antara ciri orang yang belum menemukan passion-nya dapat dilihat dari aktivitas yang mereka kerjakan. Lihat saja raut wajahnya. Mereka yang bekerja dengan keterpaksaan pasti jarang sekali tersenyum. Kalaupun tersenyum dapat dengan mudah dibedakan antara senyum yang tulus dan yang tidak tulus, (hal 39).
Jika ditelisik, sebenarnya banyak sekali profesi di dunia ini yang dapat diraih oleh setiap orang. Sayangnya, tidak banyak profesi yang sesuai dengan jiwanya. Sehingga profesi tersebut dijalaninya dengan penuh keterpaksaan sehingga hidupnya pun jauh dari rasa nyaman, bahagia, dan berujung pada rasa stres berkepanjangan. Buku berjudul ‘Aku Mau Jadi Apa?’ akan membantu pembaca menggali profesi yang paling tepat dengan keinginan sekaligus kemampuan masing-masing.
            Setiap orang terlahir dengan membawa ‘kekurangan’. Tetapi di sisi lain, Tuhan menganugerahkan ‘kelebihan’ pada tiap hamba-Nya. Tugas setiap orang adalah berusaha menggali dan mengeksplor ‘kelebihan’ tersebut agar ‘kekurangan’ yang ada dalam dirinya tertutupi. Tukul Arwana, presenter Bukan Empat Mata di sebuah stasiun televisi swasta, merupakan sosok yang memanfaatkan kelebihan yang ada dalam dirinya di tengah kekurangan yang ia miliki. Ia sangat menyadari dengan raut wajahnya yang tidak tampan, berasal dari orang ndeso, katroh dan bukan dari keturunan keluarga kaya-raya. Namun, ia memunyai kelebihan yang jarang dimiliki orang lain.
            Ia merasa dirinya gemar bercanda dan modal inilah yang kemudian digali dan dikembangkannya sehingga kini ia berhasil menjadi presenter sekaligus pelawak sukses yang laris manis tampil di berbagai stasiun televisi swasta. Kariernya di jagat hiburan dari hari ke hari pun terus melesat, (hal 15-16).
            Salah satu cara mengetahui talenta yang ada dalam diri adalah dengan cara mengikuti berbagai macam tes kepribadian (psikotes). Mungkin sebagian orang sudah pernah ada yang melakukan. Bagi yang belum, dalam buku ini akan dipaparkan cara-caranya. Misalnya, buatlah daftar di sebuah kertas tentang berbagai ‘kelebihan’ dan ‘kekurangan’ menurut pandangan diri sendiri dan pandangan orang lain. Tuliskan juga daftar hal-hal yang paling senang dikerjakan dan hal-hal yang tidak senang dikerjakan. Hal paling disenangi inilah yang nantinya dijadikan pondasi meraih cita-cita, (hal 47-55).
            Mengapa setiap orang, sebaiknya, melakukan pekerjaan sesuai hobi dan profesinya? Terkait hal ini, penulis memaparkan secara detail. Hobi merupakan aktivitas yang sangat menyenangkan dan dilakukan secara berulang-ulang. Misalnya, ada orang yang sangat senang sekali memasak, maka setiap hari ia berusaha untuk membuat aneka jenis masakan dan ia merasa senang dan tak pernah bosan melakukannya.
            Pekerjaan (job) merupakan sebuah aktivitas yang dilakukan dan akan mendapatkan kompensasi ketika pekerjaan tersebut berhasil diselesaikan. Suka atau tidak, setelah seseorang menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan, maka ia berhak atas gaji, honor atau bonus yang telah dijanjikan pimpinan. Dengan kata lain, bekerja merupakan bentuk menukar waktu, tenaga dan pemikiran dengan upah yang diterima. Jadi, jika seseorang datang ke kantor pukul 08.00 dan pulang pukul 17.00 tapi ketika melakukannya tidak ada jiwa atau kesenangan, berarti apa yang ia kerjakan hanya sebatas menjalankan rutinitas untuk menggugurkan kewajiban.
            Profesi, memiliki makna janji atau ikrar untuk memenuhi sebuah tugas. Profesi merupakan sebuah aktivitas yang dilakukan seseorang yang memiliki keahlian, keterampilan, atau pendidikan tertentu. Tentu saja dari aktivitas tersebut ia akan memerolah kompensasi materi yang sesuai. Jika, misalnya, ada orang yang menjadi tukang servis elektronik, apakah pekerjaan tersebut bisa dikategorikan sebuah profesi? Ya, bisa disebut profesi, dengan catatan ia memiliki keterampilan dan menguasai apa yang dikerjakan dengan rasa tanggung jawab. Orang yang dapat mengerjakan sebuah profesi dengan baik, maka itu disebut profesional, (hal 75-76).
            Buku motivasi ini patut diapresiasi dan layak dijadikan bacaan bermutu untuk membantu para pembaca, khususnya anak-anak muda Tanah Air, menemukan profesi yang sesuai dengan passion-nya masing-masing.
***

Judul Buku      : Aku Mau Jadi Apa?
Penulis             : Rusydan Ubaidi Hamdani
Penerbit           : Transmedia, Jakarta
Cetakan           : II, 2013
Tebal               : vi + 190 halaman
ISBN               : 978-979-799-253-8

*resensi ini dimuat di Wisata-Buku.com:



Kamis, Juli 10, 2014

Kesuksesan Ditentukan oleh Besarnya Cara Berpikir




            Setiap orang pasti mendambakan kesuksesan dan hal-hal terbaik dalam hidupnya. Tak ada seorang pun di dunia ini yang ingin hidup dalam kesulitan. Kesuksesan, kebahagiaan, dan kepuasaan hidup setiap orang ditentukan oleh seberapa besar cara berpikirnya. Berpikir besar memang memiliki efek sangat dahsyat. Shakespeare, dengan cerdik pernah menulis, “Tidak ada hal baik dan buruk kecuali pikiran manusia yang menciptakannya demikian”.
            Berpikirlah besar, maka ‘hidup besar’ akan mudah diraih. Hidup besar dalam kebahagiaan, besar dalam  prestasi, jumlah pendapatan, jumlah teman yang dimiliki dan besar dalam memperoleh rasa hormat dari orang lain. Salah satu kebijakan paling praktis untuk membangun kesuksesan adalah dengan membangun keyakinan. Setiap orang mampu meraih kesuksesan dengan memupuk keyakinan bahwa ia sanggup untuk hidup sukses. Kekuatan keyakinan bukan hal magis atau mistis. Seseorang yang yakin bisa melakukan sesuatu, ia akan menemukan jalan keluar.
            Orang yang memiliki keyakinan kuat sanggup memindah gunung, ia akan sukses melakukannya. Orang yang yakin bahwa ia tak mampu, akan gagal melakukannya. Keyakinan menggerakkan kekuatan dalam diri untuk membuat setiap keinginan menjadi terwujud. Keyakinan untuk sukses adalah satu unsur dasar yang dimiliki orang-orang sukses (hal 5).
            Pikiran manusia ibarat sebuah pabrik yang sibuk memproduksi berbagai macam ide dalam sehari. Produksi dalam ‘pabrik pikiran’ berada di bawah tanggung jawab dua pengawas yang disebut Pak Kemenangan dan Pak Kekalahan. Pak Kemenangan bertugas menimbulkan pikiran-pikiran positif. Sementara Pak Kekalahan membangun pikiran-pikiran negatif yang ujung-ujungnya merendahkan diri sendiri. Pikiran negatif apa pun, jika dipupuk terus-menerus, dapat berkembang menjadi perusak pikiran yang nyata, sehingga akan menimbulkan hilangnya rasa percaya diri dan terjerumus ke dalam masalah psikologis.
Ada tiga pedoman yang dapat memperkuat keyakinan. Pertama, berpikirlah sukses jangan berpikir gagal. Kedua, secara teratur, ingatkan bahwa diri ini lebih baik dari yang semula dikira. Ketiga, yakinlah besar. Sebab, besarnya kesuksesan ditentukan besarnya keyakinan. Jika hanya membayangkan tujuan-tujuan kecil, maka bayangan seperti itulah yang kelak terjadi (hal 13).
Orang-orang yang tak berhasil meraih kesuksesan biasanya mudah terjangkit penyakit yang merusak pikiran. Penyakit tersebut bernama ‘dalih’ (excusitis). Penyakit dalih, memisahkan orang yang ingin maju dan orang yang hanya bertopang dagu. Orang yang sukses dalam hidup biasanya tidak suka berdalih.
Penyakit dalih muncul dalam berbagai bentuk, seperti dalih kesehatan, dalih usia, dan dalih keberuntungan. Dalih kesehatan bervariasi, dari “Saya merasa tidak enak badan” hingga keluhan yang lebih khusus “Ada yang salah dengan tubuh saya”. Kesehatan yang buruk, dalam ribuan bentuknya, selalu digunakan sebagai dalih untuk menggagalkan keinginan dan kesempatan merengkuh kesuksesan (hal 19).
Ada 4 hal yang dapat digunakan untuk melawan dalih kesehatan. Pertama, jangan berbicara tentang kondisi kesehatan. Pribadi yang berpikir sukses akan mengalahkan keinginan untuk berbicara tentang penyakit yang tengah dideritanya. Seseorang mungkin mendapat simpati dengan mengeluhkan penyakitnya, akan tetapi ia tidak akan dihargai dan dihormati orang lain jika memiliki kebiasaan mengeluh.
Kedua, jangan mengkhawatirkan kesehatan. Ketiga, selalu bersyukur dengan anugerah kesehatan yang ada saat ini. Ada pepatah kuno yang sering diucapkan untuk memotivasi, “Saya menyesali sepatu saya yang butut hingga akhirnya saya bertemu orang yang tidak punya kaki”. Keempat, camkan, “Lebih baik bekerja sampai tua daripada menganggur karena tua”. Nikmatilah hidup ini dan jangan sia-siakan hidup dengan berpikir suatu saat akan masuk rumah sakit (hal 23-24).
Usia lanjut, juga menjadi penyakit dalih yang menjauhkan orang dari kesuksesan. Orang yang sehat dan senang bekerja, ia akan tetap produktif hingga usia 70 tahun. Usia bukan penghalang kecuali diri sendiri yang menjadikan penghalang. Penyakit dalih selanjutnya adalah dalih keberuntungan. Banyak orang menyalahkan nasib sial saat tertimpa masalah dan menganggap orang lain yang sukses sebagai sebuah keberuntungan. Padahal, kesuksesan tak ada kaitannya dengan keberuntungan. Sukses hanya mampu diraih dengan melakukan banyak hal dan menguasai prinsip-prinsip kesuksesan (hal 32-36).
            Buku motivasi yang telah terjual lebih dari 4 juta eksemplar ini membeberkan berbagai ide praktis dan realistis. Prinsip-prinsip berpikir besar untuk meraih kesuksesan, kebahagiaan dan kepuasan hidup juga menjadi pembahasan penulis.
***


Judul Buku      : The Magic of Thinking Big
Penulis             : David J. Schwartz, Ph.D.
Penerbit           : MIC Publishing
Cetakan           : I, Maret 2014
Tebal               : xvi 288 halaman
ISBN               : 978-602-8482-85-1




*resensi ini dimuat di Rimanews 10 Juli 2014: